Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Agustus 2016

“Rekayasa Metabolik Alga untuk meningkatkan Produksi Biohidrogen”

Energi merupakan kebutuhan mutlak yang sangat diperlukan dalam kehidupan manusia. Berbagai kegiatan manusia ditunjang dengan adanya sumberdaya energi. Ketersediaan energi akan sangat mempengaruhi kegiatan perekonomian suatu bangsa. Akan tetapi penggunaan bahan bakar fosil sebagai sumber energi sedang menghadapi permasalahan yang sebelumnyatidak dibayangkan, yaitu menipisnya cadangan bahan bakar fosil dan meningkatnya suhu bumi akibat emisi CO2 serta terjadinya pencemaran udara.
Menipisnya cadangan bahan bakar fosil di Indonesia dapat dilihat dari produksi minyak yang rendah  dibandingkan dengan konsumsi jauh lebih tinggi. Data SKK Migas memperlihatkan bahwa produksi minyak dalam negeri terus mengalami penurunan sejak tahun 2000. Menipisnya cadangan minyak dan bahan bakar fosil lainnya menuntut dilakukannya eksplorasi energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar fosil. Ada dua kriteria yang harus dipenuhi oleh sumber energi baru, yaitu haruslah bersifat terbarukan dan juga ramah lingkungan.
Energi yang bersifat terbarukan ialah energi yang dapat terus diproduksi tanpa jangka waktu dan jumlahnya tidak terbatas. Sementara ramah lingkungan berarti tidak menyebabkan emisi gas rumah kaca, polusi udara, pencemaran perairan dan juga tidak bersifat toksik. Biohidrogen merupakan salah satu solusi energi baru, terbarukan dan juga ramah lingkungan.
Kata atau pengertian biohidrogen mengacu pada hidrogen yang dihasilkan oleh makhluk hidup, seperti yang kita ketahui bahwa hidrogen merupakan salah satu bahan bakar digunakan pada roket. Makhluk hidup misalnya tumbuhan menghasilkan hidrogen secara alami melalui tahapan fotolisis air dengan bantuan sinar matahari. Adapun reaksinya dapat digamabarkan sebagai berikut:

2H2O            ----------->        2H2  +  O2
Akan tetapi, biohidrogen yang dihasilkan oleh tanaman tidak dapat dipanen. Pemanenan biohidrogen biasanya dilakukan pada alga uniseluler,  cyanobacteria, dan mikroorganisme fermentasi.
Beberapa literatur menyebutkan bahwa bahan bakar hidrogen mampu menghasilkan energi sebesar 122 kJ/g, sekitar 2 kali lipat lebih besar dibandingkan bahan bakar hidrokarbon. Hidrogen mempunyai karakteristik tidak berbau, berwarna, berasa, dan juga tidak beracun serta menghasilkan air sebagai produk tunggal pada saat proses pembakaran. Umumnya biohidrogen diproduksi dengan menggunakan alga dan cyanobacteria, dimana kedua mikroorganisme tersebut sangat mudah untuk dikultivasi selain itu biohidrogen yang dihasilkan juga lebih banyak karena dilakukan dengan bantuan cahaya matahari melalui reaksi fotolisis air.

Akan tetapi, penggunaan alga sebagai penghasil biohidrogen harus melalui berbagai tahapan lebih lanjut, yaitu perlunya dilakukan rekayasa metabolik untuk meningkatkan produktivitas hidrogennya. hal tersebut bisa dilakukan dengan mempelajari proses terbentuknya biohidrogen terlebih dahulu. Berikut adalah gambar yang menjaelaskan proses terbentuknya biohidrogen pada jalur fotosintesis dan glikolisis



Berdasarkan gambar tersebut diketahui bahwa produksi biohidrogen sangat dipengaruhi oleh enzim hidrogenase, dimana enzim tersebut mempunyai peranan membentuk 2H+ menjadi H2.
   Klon gen hidrogenase ke vektor overekspresi dapat meningkatkan produksi enzim hidrogenase didalam sel alga sehingga sebagai akibatnya banyak ion H+ yang dikonversi menjadi H2. Penelitian mengenai vektor overekspresi pertama kali dilakukan oleh Napoli et al (1990) yaitu dengan melakukan rekayasa pada tanaman petunia. Berdasarkan penelitian tersebut, kloning gen Chalcone synthase (chs) meningkatkan terbentuknya pigmen antosianin, dimana enzim tersebut berperan dalam mensintesis chalcone yang merupakan prekursor antosianin (Prymrose & Twyman, 2006).
Meningkatnya ekspresi gen chs pada tanaman petunia disebabkan oleh adanya strong promoter berupa promoter CaMV (Cauliflower Mosaic Virus) pada vektor overekspresi. Keberadaan promoter tersebut mengakibatkan suatu gen bersifat konstitutif atau diekspresikan secara terus-menerus. Tahapan selanjutnya setelah klon gen hidrogenase ke vektor overekspresi adalah dengan melakukan transformasi.
Transformasi vektor rekombinan kedalam sel alga dapat dengan mentransformasikan vektor rekombinan kedalam sel Agrobacterium tumefaciens terlebih dahulu, barulah transformasi kedalam sel alga. Hal ini dikarenakan alga mempunyai karakteristik tumbuhan sehingga dapat diinfeksi oleh Agrobacterium tumefaciens. Selain melalui Agrobacterium tumefaciens transformasi vektor rekombinan juga dapat langsung dilakukan dengan teknik elektroporasi apabila alga yang digunakan dari golongan cyanobacteria.
Seleksi mutlak dilakukan untuk mengetahui dan memisahkan alga yang tidak memiliki vektor rekombinan dikarenakan proses transformasi bisa saja tidak berhasil 100%, sehingga tidak semua alga memiliki gen kloning. Umumnya seleksi yang digunakan adalah dengan menambahkan antibiotik kedalam media, koloni yang dapat hidup adalah koloni yang memiliki vektor rekombinan. Proses ini dimungkinkan karena sebuah vektor biasanya dilengkapi dengan selectable marker yang dapat digunakan menseleksi individu dengan vektor rekombinan. Selain tahapan tersebut juga perlu dilakukan seleksi lebih lanjut untuk memverifikasi keberadaan insert pada vektor dan orientasi insert (sense atau antisense) terhadap promoter.
Kultivasi alga hasil rekayasa metabolik dapat dilakukan dengan menggunakan media berupa limbah contohnya adalah limbah tahu. Penggunaan limbah cair industri tahu sebagai tambahan pada media kultivasi alga bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhannya. Limbah cair tahu sangat kaya akan sisa-sisa protein yang sangat penting untuk pertumbuhan alga sebagai sumber nitrogen dan karbon. Kultivasi alga dilakukan dengan menggunakan photobiological reactor yang permukaan wadah kulturnya transparan karena terbuat dari kaca. Permukaan transparan akan mempermudah masuknya cahaya yang sangat penting dan digunakan oleh alga untuk reaksi fotolisis air. Selain itu penggunaan photobiological reactor juga bertujuan untuk mempermudah proses pemanenan biohidrogen (H2).
Agar layak diaplikasikan dalam skala besar, produktivitas biohidrogen oleh alga harus ditingkatkan. Produktivitas biohidrogen dapat ditingkatkan melalui proses rekayasa metabolik dengan mengklon gen hidrogenase ke vektor overekspresi. Kultivasi alga dapat dilakukan dengan menambahkan limbah cair tahu sebagai sumber nutrisi bagi pertumbuhan alga. Rekayasa dan penambahan limbah cair tahu kedalam media kultivasi merupakan langkah yang bisa dilakukan untuk memproduksi biohidrogen dalam skala besar. Kedua hal tersebut dapat meningkatkan efiktivitas dan efisiensi produksi biohidrogen, selain itu juga mampu menurunkan biaya operasional karena penggunaan limbah cair tahu sebagai sumber nutrisi alga.

Rujukan Pustaka:
Beer, L.L., E.C. Boyd., J.W. Peters., & M.C. Posewitz. 2009. Engineering algae for Biohydrogen and Biofuel Production. Biotechnology. 20: 264-271.
Primrose, S.B & R.M. Twyman. 2006. Principles of Gene Manipulation an Genomics. Victoria: Blackwell Publishing. 

Kamis, 07 Mei 2015

Tanah Serpentin

Tanah  serpentin mudah diketahui karena berwarna hijau-coklat dengan bebatuan mengkilap berwarna hitam legam dan putih pecah atau tersebar. Tanah serpentin memiliki kandungan logam berat yang tinggi seperti Cr (Kromium), Co (Kobalt), dan Ni (Nikel). Kandungan Ca (Kalsium) pada tanah ini biasanya rendah, sebaliknya kandungan Mg (Magnesium) tinggi. Nitrogen juga jarang tersedia di tanah serpentin sehingga menjadi faktor pembatas pertumbuhan tumbuhan. Secara umum, tanah serpentin bersifat miskin hara dan air. Tanah serpentin umumnya hanya mengandung sedikit agregat di permukaan tanahnya. Kandungan logam berat yang tinggi pada tanah ini dapat menghambat pertumbuhan tumbuhan, bahkan di beberapa tempat kadarnya mencapai ambang beracun bagi tumbuhan (Sudarmono, 2007). Kondisi tersebut membuat tumbuhan yang tumbuh di tanah serpentin melakukan simbiosis dengan cendawan ektomikoriza.  



Selasa, 04 November 2014

Interaksi Antar Makhluk Hidup

Amensalisme
  • Manusia: Orang yang nyanyi-nyanyi tidak jelas didekat orang yang sedang belajar
  • Hewan: Protozoa yang hidup dipantai Jamaika
  • Tumbuhan: Tanaman Akasia dibawah pohon Pinus besar yang rimbun
  • Mikroba: Mikroba penghasil antibiotik (Pennicillum sp) yang menghasilan Penicilin yang menghambat mikroba lain
Neutralisme
  • Manusia: Dua orang yang duduk bersebelahan dalam kereta
  • Hewan: Kucing dan semut dalam sebuah ruangan yang sama
  • Tumbuhan: Dua tanaman dalam pot berbeda yang diletakkan berdampingan
  • Mikroba:  Populasi Algae Spirulina sp dan Penium sp pada danau yang sama
Kompetesi

  • Manusia: Lomba lari cepat 1000 meter
  • Hewan: Kuda Nil dan Buaya yang memperebutkan sungai yang tinggal sedikit pada musim Kemarau
  • Tumbuhan: Tanaman pertanian dan gulma
  • Mikroba: Bakteri baik dan jahat dalam usus manusia
Parasitisme
  • Manusia: Seseorang orang yang selalu ngutang dengan temannya.
  • Hewan: Kutu pada Kucing.
  • Tumbuhan: Benalu pada pohon ketapang.
  • Mikroba: Trypnosoma pada darah manusia.
Predasi
  • Manusia: Kanibalisme; Sumanto
  • Hewan: Kucing dan Tikus
  • Tumbuhan: Tumbuhan Karnivora; Kantong Semar
  • Mikroba: protozoa Didinium dapat menelan dan mengkonsumsi protozoa Paramaecium yang lebih besar
Komensalisme
  • Manusia: Seseorang yang belum paham meminta ajari kepada temannya yang sudah paham.
  • Hewan: Ikan Badut Dengan Anemon
  • Tumbuhan: Anggrek dengan pohon Pinus
  • Mikroba: Algae yang menempel pada cangkang molusca sungai atau danau
Protokoperasi
  • Manusia: Calo dan Sopir
  • Hewan: Kerbau Rawa dan Burung Jalak
  • Tumbuhan:  Bunga dan Kupu-kupu (sama-sama menguntungkan tapi tidak saling bergantung
  • Mikroba: Lichenes (Lumut dan Algae)

Mutualisme

  • Manusia: Penjual dan Pembeli
  • Hewan: Sapi dengan Bakteri Selulolitik dalam ususnya
  • Tumbuhan: Fungi Mikoriza dengan tanaman Pinus yang tumbuh di Tanah Kritis
  • Mikroba: Rayap dengan Protozoa 

Kamis, 28 Agustus 2014

Jelutung (Dyera pollyphylla)

PENDAHULUAN
Provinsi Kalimantan Selatan mempunyai lahan rawa seluas 191.022 ha yang terdapat di Kabupaten Barito Kuala, Banjar dan tiga Kabupaten lainnya dengan luas masing-masing 93.365 ha, 49.267 ha dan 48.390 ha. Dari luas tersebut yang sudah dimanfaatkan baru mencapai 155.860 ha (81,59%) dari total luas potensi lahan rawa di Provinsi Kalimantan Selatan (Bakhri, 1993).
Besarnya luasan lahan rawa yang terlantar seperti tersebut di atas disebabkan oleh adanya hambatan internal lahan rawa berupa sifat fisika, kimia, biologi, tata air dan sosial ekonomi yang menghambat kegiatan budidaya tanaman. Sifat kimia lahan yang menghambat antara lain: kemasaman dan kesuburan tanah yang rendah (miskin hara). Sifat fisika yang menghambat adalah adanya penyusutan ketebalan (subsidence) dan kondisi fisik lahan. Faktor tata air yang menghambat adalah adanya variasi genangan. Kendala biologis berupa tingginya serangan hama dan penyakit serta infeksi gulma. Kendala sosial ekonomi di daerah rawa meliputi: (a) rendahnya tingkat pendidikan dan ketrampilan petani, (b) terbatasnya tenaga dan modal petani yang menyebabkan timbulnya kesulitan dan lambannya adopsi teknologi baru. Kelembagaan agribisnis seperti penyediaan sarana produksi, pengolahan pasca panen, pemasaran hasil, sistem informasi dan penyuluhan serta aksesibilitas lokasi masih terbatas dan belum berkembang serta berfungsi secara baik.
Upaya memproduktifkan kembali lahan rawa terlantar dapat dilakukan melalui pembangunan hutan rakyat dengan teknik agroforestry berbasis jenis lokal (indigenous species) yang dilakukan secara partisipatif. Pembangunan hutan rakyat tersebut diharapkan dapat memulihkan dan meningkatkan fungsi ekologi serta ekonomi lahan rawa di Provinsi
Kalimantan Selatan.

Jelutung rawa (Dyera pollyphylla Miq. Steenis atau sinonim dengan D. lowii Hook F) merupakan jenis pohon lokal (indigenous tree species) hutan rawa yang prospektif untuk dikembangkan pada hutan rakyat di lahan rawa karena keunggulan ekologi dan ekonomi yang dimilikinya. Jelutung rawa mempunyai daya adaptasi yang baik dan teruji pada lahan rawa, pertumbuhannya relatif cepat dan dapat dibudidayakan dengan manipulasi lahan yang minimal, mempunyai daya adaptasi yang baik dan telah teruji pada lahan rawa mempunyai pertumbuhan yang cepat (riap diameter 2,0 – 2,5 cm/tahun, riap tinggi 1,6 – 1,8 m/tahun) dapat dibudidayakan dengan manipulasi lahan minimal mempunyai hasil ganda, getah (untuk permen karet, kosmetik, isolator) dan kayu (untuk pencil slate, vinir, moulding) sudah dikenal dan dimanfaatkan lama oleh masyarakat dapat dibudidayakan seperti tanaman karet, pada masa produktif disadap getahnya, pada akhir daur dimanfaatkan kayunya.
BUDIDAYA POHON JELUTUNG (Dyera spp.)
Pohon jelutung berbentuk silindris, tingginya bias mencapai 25-45 m, dan diameternya bisa mencapai 100 cm. Kulitnya rata, berwarna abu-abu kehitam-hitaman, dan bertekstur kasar. Cabangnya tumbuh pada batang pohon setiap 3-15 m. Bentuk daunnya memanjang, pada bagian ujungnya melebar dan membentuk rokset. Sebanyak 4-8 helai daun tunggal itu duduk melingkar pada ranting. Jelutung berbunga dua kali setahun. Bunga malainya berwarna putih, dan buahnya berbentuk polong. Apabila sudah matang, buahnya pecah untuk menyebarkan biji-bijinya yang berukuran kecil dan bersayap ke tempat di sekitarnya.
1.      Kesesuaian Lahan
Jelutung tumbuh baik di daerah hutan hujan tropis yang beriklim tipe A dan tipe B menurut Schmidt & Ferguson; tanah berpasir, tanah liat, dan tanah rawa; dengan ketinggian tempat tumbuhnya 20-80 m dari permukaan laut.
Adapun proses budidaya jelutung rawa :
2.      Pembibitan
            Jelutung rawa berbuah setiap tahun, mulai berbunga pada bulan November-Desember dan buah telah matang (dapat dipanen) bulan Mei-Juni (tergantung musim). Masa simpan benih pendek yakni 1 - 2 bulan maka sebaiknya setelah dipanen benih langsung dikecambahkan. Benih yang baik akan mul;ai berkecambah setelah 1 minggu penyemaian  kemudian akan tumbuh sepasang kotiledon, pada saat ini kecambah sudah bisa dipindahkan ke polybag. Pada fase ini perlu kehati-hatian dan harus orang yang berpengalaman karena batang kecambah lunak dan mudah patah. Setelah bibit berumur 8 - 10 bulan maka bibit sudah siap dipindahkan ke lapangan. Kriteria bibit sudah siap tanam : Tinggi antara 35 - 50 cm, diameter batang 0,5 - 0,7 cm, jumklah daun 8 - 12 helai, bentuk batang lurus, bentuk batang lurus dan terbebas dari serangan hama dan penyakit.
3.      Penyiapan Lahan
Penyipan lahan cukup dilakukan dengan membuat jalur tanaman selebar 1 - 1,5 m karena tanaman jelutung muda masih butuh naungan, pembersihan lahan dapat dilakukan secara manual maupun dengan menggunakan herbisida. Dalam penyiapan lahan sebaiknya didesai dengan emmbuat sekat bakar yang berfungsi sebagai pelindung tanaman dari bahaya kebakaran lahan.
4.      Penanaman
-          Untuk penanaman murni maupun rehabilitasi kawasan hutan jarak tanam yang dianjurkan adalah 4 x 5 m atau 5 x 5 m. Pada umur 5 tahun dapat dilakukan penjarangan sehingga jarak tanamnya menjadi 8 x 8 atau 8 x 10 m. Tapi alangkah baiknya tidak dilakukan penjarangan karena sayang kalau ditebang...
-          Bagi yang memiliki lahan terbatas dan sudah terlanjur ditanami tanaman kopi, kelapa sawit dan atau kelapa dalam jangan khawatir masih bisa ditanami jelutung dengan sistem tumpang sari. Jarak tanam disesuaikan dengan jarak tanam tanaman pokok, pola tanamnya diagonal (mata lima) seperti mata dadu lima, kayu jelutungnya ditanam ditengah-tengah tanaman pokok. Untuk penanam di sela-sela tanaman sawit dianjurkan umur kelapa sawit di atas 5 tahun, dengan asumsi bahwa masa produkstif kelapa sawit di lahan gambut 5 - 15 tahun, jadi pada saat kelapa sawit berumur 15 tahun tanaman jelutung sudah berumur 10 tahun, sehingga produksi kelapa sawit mulai berkurang pohon jelutung sudah bisa di sadap.
5.       Pemeliharaan
-      Untuk penanaman murni pemeliharaan yang paling penting adalah pada tahun ke-1 setelah tanam, berupa penyiangan, pendangiran, penyulaman, pemupukan (jika ada modal) dan pemberantasan hama dan penyakit (jika diperlukan).
-      Sedangkan pemeliharaan tanaman jelutung yang ditanam disela-sela tanaman perkebunan (tumpang sari) pemeliharaan relativ lebih mudah, karena komponen pemeliharaan sudah menjadi satu dengan pemeliharaan tanaman pokok.

                 MANFAAT EKONOMIS JELUTUNG
Jelutung sebagai komoditi pohon di lahan rawa tentu memiliki beberapa keunggulan ekonomis yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat lokal untuk pengembangan ekonomi mereka, hal tersebut antara lain adalah:
A.    Getah
Pohon jelutung menghasilkan getah berwarna putih. Penyadapan getah jelutung dilakukan padas pohon jelutung yang berdiameter lebih-kurang 20 cm. Sekali penyadapan menghasilkan getah jelutung 0,1-0,6 kg/pohon. Setahun penyadapan getah jelutung bisa dilakukan 40 kali. Sebagai gambaran, dengan asumsi harga getah jelutung dipasaran sebesar Rp 3.000,-/kg, dengan jumlah pohon 200 pohon/ha, maka nilai ekonomis getah jelutung per hektar Rp 2.400.000,- – Rp 13.440.000,-.
B.     Kayu
Setelah pohon jelutung tidak lagi menghasilkan getahnya, pohonnya bisa ditebang untuk dimanfaatkan kayunya. Kayu jelutung dapat digunakan untuk bahan: cetakan bangunan, meja gambar, kelom, ukiran, sepasiter baterai, kayu lapis dan pensil.
Menurut perencanaan pembangunan hutan rakyat, pertumbuhan diameter pohon jelutung rata-rata 1,58 cm/tahun, dan dengan umur masak tebangnya 35 tahun, maka rata-rata diameter pohonnya lebih besar 50 cm. Dengan asumsi rata-rata tinggi pohon bebas cabang 15 m, volume rata-rata 2,94 m3, jumlah pohon 200/ha, dan harga kayu di pasaran Rp. 200.000,-/m3, maka nilai kayu jelutung per ha Rp. 117.600.000,-
JELUTUNG UNTUK HUTAN RAKYAT DI LAHAN RAWA
Keberhasilan pembangunan hutan rakyat di lahan rawa salah satunya ditentukan oleh faktor pemilihan jenis yang tepat dari aspek ekonomi, sosial budaya dan ekologis. Pemilihan jelutung untuk hutan rakyat di lahan rawa didasari oleh alasan sebagai berikut.
1.      Kemampuan beradaptasi pada lahan rawa telah teruji. Daya adaptasi yang baik pada lahan rawa merupakan syarat mutlak bagi suatu jenis pohon yang akan digunakan untuk merehabilitasi lahan rawa terdegradasi. Jelutung mempunyai daya adaptasi yang baik pada lahan rawa yang selalu tergenang atau tergenang berkala.
2.      Pertumbuhan yang relatif cepat. Jelutung mempunyai pertumbuhan yang relatif cepat, pada kondisi alami riap diameter pohon berkisar antara 1,5 – 2,0 cm per tahun (Bastoni dan Riyanto, 1999). Pohon jelutung yang dibudidayakan dengan pemeliharaan semi insentif riap diameternya dapat mencapai 2,0 – 2,5 cm per tahun (Bastoni, 2001).
3.      Dapat dibudidayakan dengan manipulasi lahan yang minimal. Jelutung dapat dikembangkan untuk hutan rakyat di lahan rawa dengan gangguan terhadap lahan yang sangat minimal. Hal ini dimungkinkan sebab penanaman jelutung di lahan rawa dapat dilakukan tanpa pembuatan kanal untuk sistem drainase. Pembuatan kanal merupakan bentuk gangguan berat pada lahan yang berdampak negatif, seperti: terjadinya perubahan status hidrologi dari kondisi tergenang menjadi tidak tergenang, terjadinya penurunan tebal lapisan (subsidence) dan menyebabkan sifat kering tak balik. Kondisi tersebut menyebabkan lahan rawa menjadi sangat rawan kebakaran pada musim kemarau.
4.      Hasil ganda (getah dan kayu). Pengembangan jelutung mempunyai prospek yang baik karena kedua jenis produk pohon jelutung (getah dan kayu) memiliki banyak manfaat. Kayu jelutung berwarna putih kekuningan, bertekstur halus, arah serat lurus dengan permukaan kayu yang lici mengkilap. Sifat kayu jelutung tersebut sangat baik digunakan sebagai bahan baku industri mebel, plywood, moulding, pulp, patung dan pencil slate. Getah jelutung dapat digunakan sebagai bahan baku permen karet, isolator dan soft compound ban. Pasar kayu jelutung di dalam negeri relatif baik, hal ini disebabkan oleh kebutuhan bahan baku industri pencil slate yang mencapai 180.670 m3 per tahun (Bastoni dan Lukman, 2004).
5.      Masukan (input) biaya budidaya relatif rendah. Bastoni dan Karyaatmadja (2003) menyatakan bahwa dalam jangka waktu tiga tahun biaya yang dikeluarkan pada pembangunan hutan tanaman jenis jelutung untuk bibit, penyiapan lahan, penanaman dan pemeliharaan sekitar Rp2,88 juta per ha lahan.
6.      masyarakat telah mengenal jelutung. Jelutung dapat dibudidayakan seperti tanaman karet, yaitu pada masa produktif disadap getahnya dan pada saat produktivitas getahnya menurun dapat dimanfaatkan kayunya. Pola budidaya jelutung mirip dengan karet, yaitu hasil getah mulai umur 8-10 tahun sampai sepanjang daur dan hasil kayu pada akhir daur. Kemiripan budidaya jelutung dengan karet menjadikan masyarakat tidak
mengalami kesulitan untuk membudidayakannya.

PENUTUP
Pengembangan hutan rakyat jenis jelutung untuk memproduktifkan lahan rawa terlantar dapat dilakukan dengan mengembangkan pola kemitraan. Pembangunan hutan rakyat jenis jelutung dengan pola kemitraan dapat diinisiasi dan dikembangkan oleh suatu badan usaha kehutanan. Masyarakat pemilik lahan hanya menyediakan areal untuk pembangunan hutan rakyat jenis jelutung. Para pengusaha menyiapkan pendanaan, teknologi budidaya dan infrastruktur pemasaran hasilnya. Skema umum dari bentuk kemitraan pembangunan hutan rakyat jenis jelutung pada areal milik ini adalah sebuah benefit-cost sharing antara pemilik lahan dengan perusahaan yang disepakati bersama dalam suatu dokumen perjanjian.

DAFTAR PUSTAKA
Harun, Marinus Kristiadi. 2006. Jelutung Rawa; Primadona Baru Penghasil Getah.http://www.radarbanjarmasin.com,
diakses pada 24 November 2013
Rotinsilu, M Johanna.dkk. Teknik Budidaya Jelutung, Galam, dan Ramin. Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya, Palangkaraya.

Bahtimi, Y. 2009. Jelutung (Dyera,Spp) Dan Strategi Pengembangannya Di Lahan 

            Rawa Kalimantan Selatan Sebagai Penunjang Peningkatan Ekonomi

Masyarakat Lokal. Fakultas Kahutanan Universitas Labung Mangkurat,

Banjarbaru Kalimantan Selatan

http://hijaualami.wordpress.com (diakses pada tanggal 25 November 2013)

Jumat, 22 Agustus 2014

Ringkasan Jurnal

“Efek Pembukaan Lahan terhadap Karakteristik Biofisik Gambut pada Perkebunan Kelapa Sawit di Kabupaten Bengkalis”
Suwondo, Supiandi Sabiham, Sumardjo dan Bambang Paramudya
  IPB Bogor.

Lahan gambut memberikan pelayanan ekologi, sosial dan ekonomi yang sangat potensial untuk dikembangkan. Pembukaan lahan yang tidak memperhatikan karakteristik biofisik lingkungan menyebabkan lahan gambut mengalami degradasi dan menjadi lahan terlantar. Sebagai contoh adalah pemanfaatan lahan gambut di kabupaten Bengkalis yang belum mampu menjaga keberlangsungan ekologis pada ekosistem gambut tersebut. Hal inilah yang melatarbelakangi dilakukannya penelitian ini.
Penelitian tersebut dilakukan di kabupaten Bengkalis Prov.Riau dengan lokasi utama di kecamatan Siak Kecil dan Bukit Batu. Pengamatan dilakukan pada dua tipe fisiografi lahan gambut; gambut pantai dan transisi. Sebagai pembanding dilakukan pengambilan tanah gambut utuh dari lahan yang belum dibuka. Analisis pada sampel tanah yang telah diambil meliputi warna tanah, kedalaman air tanah, komposisi dan ketabalan gambut, pH (H2O, KCI), kadar C-organik (%), kadar air(%), kadar abu(%), dan biomassa tanaman (ton/ha)
Metode yang digunakan untuk analisis warna tanah adalah munsel soil chart. Ketebalan gambut dan kedalaman air dilakukan dengan proses pengeboran langsung di lapangan. Kematangan dan komposisi gambut dengan metode cepat dilapangan, pengukuran kadar air dan kadar abu dengan metode gravimetri, pH diukur dengan menggunakan pH meter. Dan pengukuran kadar C-organik dengan metode Walkley and Black. Pengukuran biomassa tumbuhan dilakukan dengan metode persamaan alometrik, Karakteristik biofisik lahan gambut dianalisis secara deskriptif dan untuk melihat hubungan antar parameter utama dilakukan analisis regresi-korelasi dengan menggunakan model hubungan logaritmik.
Aktivitas pembukaan lahan pada hutan rawa gambut telah menyebabkan terjadinya perubahan profil horizon pada lahan gambut tersebut, perubahan kedalaman horizon hemik menjadi semakin dangkal dengan pertambahan umur perkebunan kelapa sawit. Selain itu juga menyebabkan terjadinya perubahan ketebalan gambut, muka air tanah dan kadar air. Semakin lama umur tanam perkebunan sawit maka semakin rendah kadar air pada lahan tesebut, kondisi ini terjadi pada gambut pantai dan transisi. Pada penelitian tersebut dikatakan bahwa tanaman kelapa sawit dapat meyerap CO2 (carbon sink) yang cukup signifikan.
Pengelolaan kedalaman muka air tanah merupakan kunci dalam pemanfaatan lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit dan untuk melestarikan lingkungan.  
pH gambut yang berada di sekitar kubah (peatdome) lebih rendah dibandingkan dengan gambut yang berada di kawasan pinggir atau mendekati sungai. Hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh air sungai atau payau yang mempunyai pH dan kualitas air yang lebih baik. Keadaaan ini dapat juga dipengaruhi oleh tingkat ketebalan gambut.
Kandungan C-organik dan kadar air semakin menurun, sedangkan muka air tanah, pH dan kadar abu semakin meningkat. Karakteristik biofisik hutan rawa gambut sekunder mempunyai perbedaan tingkat dekomposisi, kadar air, kadar abu, pH, C-organik dan biomassa dibandingkan dengan fisiografi lahan gambut pantai dan transisi.

Referensi :
Suwondo, et al. 2012. Efek Pembukaan Lahan Terhadap Karakteristik Biofisik Gambut pada Perkebunan               Kelapa Sawit di Bengkalis. Jurnal Natur Indonesia. Vol 14 (2).

Minggu, 29 Juni 2014

Indonesia Bersahabat Dengan Bencana

http://geology.com/world/indonesia-satellite-image.shtml
Indonesia merupakan sebuah negara yang terletak di antara dua samudra dan dua benua. Dan juga merupakan negara yang dikelilingi oleh alur pegunungan merapi. Sehingga biasa disebut juga cincin api (Ring of Fire).  Pertemuan dua samudra, dua benua, dan juga alur pegunungan merapi membuat Indonesia menjadi salah satu negara yang paling rentan mengalami bencana. Sejarah membuktikan bahwa bangsa Indonesia telah diuji berulang kali oleh berbagai bencana dahsyat, bahkan lama sebelum Indonesia merdeka. Namun berlawanan dengan hal tersebut, kawasan Indonesia memiliki bentang alam yang sangat indah dan juga kekayaan alam yang sangat melimpah.
Selain letaknya yang rentan terhadap bencana, Indonesia juga memiliki suatu keuntungan lebih. Yaitu menjadi kawasan strategis tempat melintasnya kapal dari seluruh dunia. Sehingga seharusnya Indonesia bisa menjadi negara yang makmur. Namun dalam perkembangannya, dari masa-kemasa bangsa Indonesia malah hanya berkutat dengan berbagai bencana yang sering kali dalaminya. Bencana yang seringkali dialami Indonesia justru membuat bangsa ini sulit mencapai kemakmuran dan kesejahteraan. Hal yang perlu diperhatikan dan diingat ialah bahwa bencana bukanlah menjadi kelemahan bagi bangsa ini, justru kita bisa memanfaatkan bencana yang bisa terjadi sebagai suatu kelebihan yang bisa menjadikan kita berdiri diatasnya untuk mencapai bangsa Indonesia yang makmur dan sejahtera.

Penyebab Bencana
  1. Alam, terjadi bukan karena kibat ulah manusia, tetapi terjadi sebagai fenomena alam.
  2. Ulah Manusia, akibat ulah manusia; seperti banjir, dll.

Bencana-bencana yang pernah dialami oleh Indonesia

Berikut adalah catatan bencana yang pernah dialami Indonesia:
  1. Tsunami pada 26 Desember 2004 di Nanggroe Aceh Darussalam, Nias, Asia Selatan, Asia Tenggara dan Afrika. Diperkirakan korban mencapai lebih 200.000 orang (150.000 orang di Aceh dan Nias). Ketinggian tsunami kala itu mencapai 35 meter, yang terjadi akibat gempa tektonik berkekuatan 8,5 SR.
    http://nubuat.blogspot.com/2012/08/kesaksian-puan-maharani-tragedi-tsunami.html
  2. Meletusnya Gunung Tambora (atau Tomboro) di Kabupaten Dompu Nusa Tenggara Barat (NTB),  pada tahun 1815. Jumlah korban diperkirakan 92.000 orang. Besar letusan gunung Tambora masuk dalam skala tujuh VEI (Indeks Letusan Gunung Internasional), dengan jumlah semburan tefrit sebesar 1.6 x 1011 meter3. Letusan ketiga ini mempengaruhi iklim global dalam waktu yang lama. Aktivitas Tambora setelah letusan tersebut baru berhenti pada tanggal 15 Juli 1815. Akibat letusan Tambora antara lain Tsunami besar menyerang pantai beberapa pulau di Indonesia pada tanggal 10 April 1815 dengan ketinggian diatas 4 m. Tinggi asap letusan mencapai ketinggian lebih dari 43 km. Karena daya tarik gravitasi yang ringan di angkasa, abu dan debu Tambora melayang dan menyebar mengelilingi dunia. Debu Tambora menetap di lapisan troposfer selama beberapa tahun dan turun melalui angin dan hujan kembali ke Bumi. Letusan gunung Tambora berdampak terhadap gagal panen di China, Eropa, dan Irlandia. Hujan tanpa henti selama delapan minggu memicu epidemi tifus yang menewaskan 65.000 orang di Inggris dan Eropa. Kelaparan melumpuhkan di Inggris. Kegelapan menyelimuti Bumi. Tambora juga jadi salah satu pemicu kerusuhan di Perancis yang warganya kekuarangan makanan. Juga mengubah sejarah saat Napoleon kalah akibat musim dingin berkepanjangan dan kelaparan pada 1815 di Waterloo.
    http:// sangunik.co.cc
  3. Tsunami Gunung Krakatau (letaknya di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra) meletus, 26 Agustus 1883.  Dengan jumlah korban jiwa mencapai lebih dari 36.000 jiwa. Ledakan ini menimbulkan gelombang setinggi 40 meter, gempa bumi dan menimbulkan tsunami hingga mencapai Hawaii. Menghancurkan 195 desa-desa di sepanjang Merak hingga Karawang, Ujung Kulon hingga Sumatera bagian selatan. Atmosfer dipenuhi dengan debu vulkanik. Dunia sempat mengalami kegelapan selama dua hari. Matahari meredup selama setahun ke depan. Perubahan iklim global sedang.
  4. Gempa tektonik 6.2 SR di Yogyakarta, 27 Mei 2006. Berdasarkan data yang diterima dari Yogyakarta Media Center pada tanggal 7 Juni 2006, jumlah korban mencapai 5.716 orang tewas dan 37.927 orang luka-luka. Gempa mengguncang Yogyakarta pada 27 Mei 2006 kurang lebih pukul 05.55 WIB selama 57 detik. Gempa bumi tersebut berkekuatan 5,9 pada SR. Secara umum posisi gempa berada sekitar 25 km selatan-barat daya Yogyakarta.
    http://cahandong.org/2007/05/25/refleksi-satu-tahun-gempa-jogja.html
  5. Gempa Bumi Sumatera Barat 2009 dengan kekuatan 7,6 SR di lepas pantai Sumatera Barat, pada pukul 17:16:10 WIB tanggal 30 September 2009. Gempa ini terjadi di lepas pantai Sumatera, sekitar 50 km barat laut Padang. Gempa menyebabkan kerusakan parah di beberapa wilayah di Sumatera Barat. Menurut data Satkorlak PB, banyaknya 6.234 orang tewas akibat gempa ini yang tersebar di 3 kota & 4 kabupaten diSumatera Barat.
  6. Gunung Kelud (Kediri Jawa Timur), meletus 19 Mei 1919. Dengan jumlah korban mencapai  5.115 orang. Letusan tahun 1919 merupakan bencana terbesar yang dihasilkan oleh aktivitas gunung Kelud pada abad ke 20, yang mengakibatkan sekitar 5160 orang meninggal. Letusan terjadi pada tengah malam antara tanggal 19 dan 20 Mei 1919 yang ditandai dengan suara dentuman amat keras bahkan terdengar sampai di Kalimantan.
  7. Tsunami Ende, Flores-Nusa Tenggara Timur, 12 Desember 1992. Dengan jumlah korban mencapai  2100 orang. Gempa bumi berkekuatan 7,8 Mw terjadi pada di lepas pantai utara bagian timur Pulau Flores, Indonesia, jam 05:29 GMT (13:29 waktu setempat) pada tanggal 12 Desember 1992.
  8. Meletusnya gunung merapi di Yogyakarta pada tanggal 26 Oktober 2010, dan menewaskan 161 orang.
  9. Banjir Bandang dan Longsor di Manado pada Rabu 15 Januari 2014 yang menewaskan 18 orang.
  10. Banjir Bandang di Teluk Wondama, Papua Barat pada tanggal 13 November 2013.
    http://seputarnusantara.com/?p=4451
  11. Gempa dan tsunami Mentawai pada  tanggal 25 Oktober 2010, Gempa bumi tersebut berkekuatan sebesar 7,2 (Mw).


Selain yang disebutkan diatas, masih banyak lagi bencana yang pernah terjadi di Indonesia. Kebanyakan dari bencana besar yang terjadi di Indonesia merupakan karena faktor alam, tetapi juga banyak yang disebabkan oleh olah manusia.

Sejarah telah membuktikan bahwa bangsa ini telah diuji oleh berbagai bencana besar.  Namun pada kenyataannya Indonesia masih saja kehilangan banyak nyawa disaat bencana menimpa. Semestinya bencana yang pernah terjadi dan dialami oleh Indonesia dapat menjadi pelajaran di masa mendatang. Dengan letak geografis yang kadang-kadang sangat potensial terjadi gempa, tsunami, dan letusan gunung berapi Indonesia harus terus berinovasi; agar pada saat terjadi bencana nantinya korban, dan kerusakan dapat diminimalisir.

Solusi Untuk Meminimalisir Dampak Bencana

          Menurut Teddy Lesmana (Peneliti LIPI di Pusat Penelitian Ekonomi), untuk meminimalkan bencana dan dampak yang ditimbulkannya, harus dimulai dengan membuat disain perencanaan pembangunan yang memasukkan kajian yang sistematis terhadap risiko bencana. Dalam disain tersebut hendaknya ada berbagai pilihan-pilihan kebijakan dalam rangka mengatasi kerawanan dan kerentanan terhadap bencana alam bagi semua kelompok dalam masyarakat.  Menurutnya, kajian terhadap risiko bencana harus dilakukan secara berkala untuk memastikan keakuratan manajemen risiko bencana sesuai dengan perubahan dalam dinamika kehidupan sosial-ekonomi masyarakat dalam proses pembangunan. Untuk lebih spesifik dalam kaitannya dengan penanganan bencana, kita perlu membangun siklus manajemen bencana.
          Manajemen siklus ini harus meliputi, pertama, pencegahan dengan mengukur dan memprediksi terjadinya bencana kajian ilmiah yang kredibel. Kedua, mitigasi untuk meminimalkan dampak bencana yang terukur dalam langkah program aksi pascabencana. Ketiga, kesiapan, langkah-langkah prosedur standar, dan sosialisasi penanganan tanggap bencana sehingga masyarakat siap untuk mengantisipasi bencana. Keempat, respons yang cepat dan terstruktur penanganan pascabencana.
Menurutnya, dalam rangka menciptakan kondisi yang kondusif dalam pengarusutamaan manajemen risiko bencana kebijakan dalam pembangunan, beberapa prakondisi yang harus disiapkan ialah,

  1. Aspek legislasi, Rancangan landasan hukum yang tepat untuk manajemen risiko bencana termasuk pengarusutamaan pengurangan risiko bencana ke dalam perencanaan dan kebijakan pembangunan merupakan komponen kunci dalam menciptakan lingkungan dan kerangka kerja sehingga strategi-strategi manajemen risiko bencana dapat lebih diberdayakan.
  2. Strategi manajemen risiko bencana, perlu dikembangkan strategi manajemen risiko bencana yang komprehensif yang secara aktif melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari berbagai tingkatan pemerintahan dan juga kalangan swasta, komunitas lokal, dan masyarakat madani diperlukan dalam implementasi kerangka kerja legislatif dan memberikan platform susunan koordinasi dan mekanisme monitoring. Ketiga, susunan dan kapasitas kelembagaan untuk manajemen risiko bencana yang terkoordinasi mulai dari tingkat pusat dan daerah termasuk kapasitas pelaksanaan manajemen risiko bencana yang memadai.
            Menurut saya, banyak hal yang bisa dilakukan untuk meminimalisir dampak korban bencana dan kerusakan. Yaitu; Membuat Inovasi terbaru dalam upaya meminimalisir dampak bencana seperti, Inovasi gedung tahan gempa, sensor pendeteksi bencana yang cepat,  konstruksi rumah dan bahan bangunan tahan panas asap letusan gunung. Ide- ide yang saya keluarkan tersebut memang terdengar sangat konyol. Akan tetapi itulah yang kita butuhkan di Indonesia sebagai negara yang cukup sering mengalami bencana. Sebagai salah satu negara yang cukup sering mengalami bencana mestinya kita lebih bersahabat dengan bencana.


#Indonesia Bersahabat Dengan Bencana

Sumber:

Lesmana, T . 2014. Manajemen Bencana dalam Pembangunan. Media Indonesia Edisi 1 Februari