Selasa, 30 Agustus 2016

“Rekayasa Metabolik Alga untuk meningkatkan Produksi Biohidrogen”

Energi merupakan kebutuhan mutlak yang sangat diperlukan dalam kehidupan manusia. Berbagai kegiatan manusia ditunjang dengan adanya sumberdaya energi. Ketersediaan energi akan sangat mempengaruhi kegiatan perekonomian suatu bangsa. Akan tetapi penggunaan bahan bakar fosil sebagai sumber energi sedang menghadapi permasalahan yang sebelumnyatidak dibayangkan, yaitu menipisnya cadangan bahan bakar fosil dan meningkatnya suhu bumi akibat emisi CO2 serta terjadinya pencemaran udara.
Menipisnya cadangan bahan bakar fosil di Indonesia dapat dilihat dari produksi minyak yang rendah  dibandingkan dengan konsumsi jauh lebih tinggi. Data SKK Migas memperlihatkan bahwa produksi minyak dalam negeri terus mengalami penurunan sejak tahun 2000. Menipisnya cadangan minyak dan bahan bakar fosil lainnya menuntut dilakukannya eksplorasi energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar fosil. Ada dua kriteria yang harus dipenuhi oleh sumber energi baru, yaitu haruslah bersifat terbarukan dan juga ramah lingkungan.
Energi yang bersifat terbarukan ialah energi yang dapat terus diproduksi tanpa jangka waktu dan jumlahnya tidak terbatas. Sementara ramah lingkungan berarti tidak menyebabkan emisi gas rumah kaca, polusi udara, pencemaran perairan dan juga tidak bersifat toksik. Biohidrogen merupakan salah satu solusi energi baru, terbarukan dan juga ramah lingkungan.
Kata atau pengertian biohidrogen mengacu pada hidrogen yang dihasilkan oleh makhluk hidup, seperti yang kita ketahui bahwa hidrogen merupakan salah satu bahan bakar digunakan pada roket. Makhluk hidup misalnya tumbuhan menghasilkan hidrogen secara alami melalui tahapan fotolisis air dengan bantuan sinar matahari. Adapun reaksinya dapat digamabarkan sebagai berikut:

2H2O            ----------->        2H2  +  O2
Akan tetapi, biohidrogen yang dihasilkan oleh tanaman tidak dapat dipanen. Pemanenan biohidrogen biasanya dilakukan pada alga uniseluler,  cyanobacteria, dan mikroorganisme fermentasi.
Beberapa literatur menyebutkan bahwa bahan bakar hidrogen mampu menghasilkan energi sebesar 122 kJ/g, sekitar 2 kali lipat lebih besar dibandingkan bahan bakar hidrokarbon. Hidrogen mempunyai karakteristik tidak berbau, berwarna, berasa, dan juga tidak beracun serta menghasilkan air sebagai produk tunggal pada saat proses pembakaran. Umumnya biohidrogen diproduksi dengan menggunakan alga dan cyanobacteria, dimana kedua mikroorganisme tersebut sangat mudah untuk dikultivasi selain itu biohidrogen yang dihasilkan juga lebih banyak karena dilakukan dengan bantuan cahaya matahari melalui reaksi fotolisis air.

Akan tetapi, penggunaan alga sebagai penghasil biohidrogen harus melalui berbagai tahapan lebih lanjut, yaitu perlunya dilakukan rekayasa metabolik untuk meningkatkan produktivitas hidrogennya. hal tersebut bisa dilakukan dengan mempelajari proses terbentuknya biohidrogen terlebih dahulu. Berikut adalah gambar yang menjaelaskan proses terbentuknya biohidrogen pada jalur fotosintesis dan glikolisis



Berdasarkan gambar tersebut diketahui bahwa produksi biohidrogen sangat dipengaruhi oleh enzim hidrogenase, dimana enzim tersebut mempunyai peranan membentuk 2H+ menjadi H2.
   Klon gen hidrogenase ke vektor overekspresi dapat meningkatkan produksi enzim hidrogenase didalam sel alga sehingga sebagai akibatnya banyak ion H+ yang dikonversi menjadi H2. Penelitian mengenai vektor overekspresi pertama kali dilakukan oleh Napoli et al (1990) yaitu dengan melakukan rekayasa pada tanaman petunia. Berdasarkan penelitian tersebut, kloning gen Chalcone synthase (chs) meningkatkan terbentuknya pigmen antosianin, dimana enzim tersebut berperan dalam mensintesis chalcone yang merupakan prekursor antosianin (Prymrose & Twyman, 2006).
Meningkatnya ekspresi gen chs pada tanaman petunia disebabkan oleh adanya strong promoter berupa promoter CaMV (Cauliflower Mosaic Virus) pada vektor overekspresi. Keberadaan promoter tersebut mengakibatkan suatu gen bersifat konstitutif atau diekspresikan secara terus-menerus. Tahapan selanjutnya setelah klon gen hidrogenase ke vektor overekspresi adalah dengan melakukan transformasi.
Transformasi vektor rekombinan kedalam sel alga dapat dengan mentransformasikan vektor rekombinan kedalam sel Agrobacterium tumefaciens terlebih dahulu, barulah transformasi kedalam sel alga. Hal ini dikarenakan alga mempunyai karakteristik tumbuhan sehingga dapat diinfeksi oleh Agrobacterium tumefaciens. Selain melalui Agrobacterium tumefaciens transformasi vektor rekombinan juga dapat langsung dilakukan dengan teknik elektroporasi apabila alga yang digunakan dari golongan cyanobacteria.
Seleksi mutlak dilakukan untuk mengetahui dan memisahkan alga yang tidak memiliki vektor rekombinan dikarenakan proses transformasi bisa saja tidak berhasil 100%, sehingga tidak semua alga memiliki gen kloning. Umumnya seleksi yang digunakan adalah dengan menambahkan antibiotik kedalam media, koloni yang dapat hidup adalah koloni yang memiliki vektor rekombinan. Proses ini dimungkinkan karena sebuah vektor biasanya dilengkapi dengan selectable marker yang dapat digunakan menseleksi individu dengan vektor rekombinan. Selain tahapan tersebut juga perlu dilakukan seleksi lebih lanjut untuk memverifikasi keberadaan insert pada vektor dan orientasi insert (sense atau antisense) terhadap promoter.
Kultivasi alga hasil rekayasa metabolik dapat dilakukan dengan menggunakan media berupa limbah contohnya adalah limbah tahu. Penggunaan limbah cair industri tahu sebagai tambahan pada media kultivasi alga bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhannya. Limbah cair tahu sangat kaya akan sisa-sisa protein yang sangat penting untuk pertumbuhan alga sebagai sumber nitrogen dan karbon. Kultivasi alga dilakukan dengan menggunakan photobiological reactor yang permukaan wadah kulturnya transparan karena terbuat dari kaca. Permukaan transparan akan mempermudah masuknya cahaya yang sangat penting dan digunakan oleh alga untuk reaksi fotolisis air. Selain itu penggunaan photobiological reactor juga bertujuan untuk mempermudah proses pemanenan biohidrogen (H2).
Agar layak diaplikasikan dalam skala besar, produktivitas biohidrogen oleh alga harus ditingkatkan. Produktivitas biohidrogen dapat ditingkatkan melalui proses rekayasa metabolik dengan mengklon gen hidrogenase ke vektor overekspresi. Kultivasi alga dapat dilakukan dengan menambahkan limbah cair tahu sebagai sumber nutrisi bagi pertumbuhan alga. Rekayasa dan penambahan limbah cair tahu kedalam media kultivasi merupakan langkah yang bisa dilakukan untuk memproduksi biohidrogen dalam skala besar. Kedua hal tersebut dapat meningkatkan efiktivitas dan efisiensi produksi biohidrogen, selain itu juga mampu menurunkan biaya operasional karena penggunaan limbah cair tahu sebagai sumber nutrisi alga.

Rujukan Pustaka:
Beer, L.L., E.C. Boyd., J.W. Peters., & M.C. Posewitz. 2009. Engineering algae for Biohydrogen and Biofuel Production. Biotechnology. 20: 264-271.
Primrose, S.B & R.M. Twyman. 2006. Principles of Gene Manipulation an Genomics. Victoria: Blackwell Publishing. 

Minggu, 14 Agustus 2016

Universitas Terbuka sebagai Universitas Perjuangan: Upaya untuk Mencerdaskan dan Membangun Bangsa

Pendidikan Tinggi Untuk Kemajuan Bangsa

Pendidikan Tinggi merupakan salah satu komponen penting yang menjadi tolak ukur kemajuan suatu bangsa. Melalui pendidikan tinggi para cendekia-cendekia muda belajar dalam menambah pengetahuan dan mengembangkan dirinya. Seseorang yang berpendidikan tinggi juga mempunyai kesempatan kerja dan karir yang lebih baik dibandingkan dengan yang lainnya. Melalui pendidikan tinggi pula harkat dan martabat seseorang diangkat. Karenanya menjadi sangatlah penting bagi generasi muda bangsa untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.

Bagi sebagian orang mengenyam pendidikan di sebuah perguruan Tinggi merupakan hal yang mustahil untuk dilakukan. Hal tersebut dapat terjadi karena beberapa alasan, diantaranya tidak ada biaya dan tidak tersedianya waktu untuk menghadiri kuliah akibat kesibukan kerja.

Faktor ekonomi “Kemiskinan” merupakan salah satu penyebab tingginya angka putus sekolah dan partisipasi kasar perguruan tinggi. Mengatasi permasalahan tersebut KEMENRISTEKDIKTI meluncurkan berbagai program beasiswa contohnya BIDIKMISI. Selain itu ada juga beasiswa yang diberikan pada saat semester berjalan yang merupakan bentuk kerjasama perguruan tinggi dengan pihak ketiga seperti perusahaan multinasional misalnya BESWAN DJARUM.

Bagaimana dengan tidak tersedianya waktu untuk menghadiri kuliah akibat kesibukan kerja?

Eeitss Tenang, meski udah kerja dan sibuk kerja masih tetap bisa kuliah kok.


Kan ada UNIVERSITAS TERBUKA

logo photo ut_zpsssmxpd6n.png

Logo Universitas Terbuka

Universitas Terbuka merupakan perguruan Tinggi Negeri ke-45 di Indonesia berdasarkan keputusan Presiden RI Nomor 41 tahun 1984 pada tanggal 4 september. Angka “45” tersebut mengingatkan kita pada kemerdekaan Indonesia yaitu pada tahun 1945. Angka tersebut diberikan secara kepada Universitas Terbuka dan seolah terjadi secara kebetulan. Melalui angka tersebut  Universitas Terbuka mempunyai amanah untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa” yang diberikan oleh para Pejuang dan Undang-Undang Dasar 1945.

Universitas terbuka (UT) merupakan perguruan tinggi pertama dan satu-satunya di Indonesia yang menyelenggarakan pendidikan tinggi jarak jauh di Indonesia. Sebagai bahan belajar, Mahasiswa UT memanfaatkan perpustakaan, tutorial online, internet, televisi dan radio selain itu bahan ajar juga diberikan dengan bentuk video ataupun audio. Jika mengalami kesulitan mahasiswa dapat meminta informasi tentang bantuan belajar kepada Unit Program Belajar Jarak Jauh yang Universitas Terbuka (UPBJJ-UT) yang terdapat diberbagai daerah di Indonesia dan berbagai Negara penempatan TKI seperti Macau, Taiwan, Hongkong, Singapura, Malaysia dan Arab Saudi. 

Dengan sistem pembelajaran demikian, kuliah di UT sangat cocok bagi mahasiswa yang tidak punya waktu karena sibuk bekerja atau ingin kuliah sambil bekerja. Selain itu, keberadaan UT memberikan kebebasan bagi masyarakat Indonesia dalam mengakses pendidikan tinggi sehingga sangatlah cocok ketika sebutan Universitas Perjuangan diberikan kepada Universitas Terbuka yang berperan dalam membangun bangsa pasca kemerdekaan yakni dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Meski menggunakan sistem pembelajaran demikian jangan khawatir mengenai kualitas pendidikan di Universitas Terbuka. Saat ini Universitas Terbuka mempunyai akreditasi B terhitung sejak tahun 2011. 

Selain itu modul-modul yang digunakan juga berstandar Internasional ISO 9001 dan ICDE (International Council for Distance Education).

Alumni Universitas Terbuka turut membangun Bangsa

Selama kurang lebih 32 tahun atau selama “Empat Windu” Universitas Terbuka telah meluluskan banyak alumni yang berperan besar dan turut serta dalam membangun bangsa. Setidaknya lebih dari 1 juta mahasiswa telah diwisuda oleh Universitas Terbuka. Melalui sistem pendidikan jarak jauhnya ada beberapa tokoh besar dinegeri ini yang merupakan alumni Universitas Terbuka. Salah  satunya adalah Ibu Ani Yudhoyono yang merupakan alumni FISIP tahun 1998. 

Berikut adalah  beberapa alumni penting Universitas Terbuka

Dalam jajaran kementrian  terdapat beberapa nama yaitu:
  • Joko Suyanto (Menko Polhukam Kabinet Indonesia Bersatu II) yang merupakan almuni S1 FISIP tahun 1996.
  • Wiranto (Menko Pulhukam Kabinet Kerja) merupakan alumni Administrasi Negara tahun 1995.
  • Linda Amalia Sari (Menteri Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II) merupakan alumni Administrasi Negara 1995.
  • Letjen TNI (Purn). EE. Mangindaan (Meneg P.A.N) merupakan alumni S1 FISIP 1995.
Dipemerintahan daerah dan lembaga negara juga terdapat beberapa nama
  • Laksmana Pertama TNI (Purn) H. Eko Maulana (Mantan Gubernur Bangka Belitung) Alumni Fakultas Ekonomi.
  • Amos Adam Residul, Maria W. Utami, M. Syafii Nur & Bambang Supriono (Pejabat BPS Kalimantan Tengah) merupakan alumni S1 Statistika Terapan.
  • Djohar Arifin Husin (Ketum PSSI Ke-14) Alumni Akta V Universitas Terbuka

Selain itu masih banyak lagi alumni Universitas Terbuka yang bekerja dan menjadi pejabat didaerah. Selain para pejabat pemerintahan, banyak pula alumni Universitas Terbuka yang menjadi pengusaha dan pesohor negeri ini. Dikalangan pengusaha ada Mooryati Soedibyo (Owner Mustika Ratu) dan Dewi Motik (Owner MONO Grup) sementara dikalangan artis ada Asmirandah, Diah Permatasari dan Elis Stannia (Stardut) yang merupakan Alumni Universitas Terbuka.


Foto-foto Alumni

Berdasarkan data statistik, Alumni Universitas Terbuka kebanyakan berprofesi sebagai guru yang merupakan pahlawan dibidang pendidikan. Guru mempunyai peranan penting dalam memberantas kebodohan dan mencerdaskan bangsa dalam upaya memberantas kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan di Indonesia.



Dengan banyaknya alumni Universitas Terbuka yang menduduki berbagai posisi dan jabatan penting di Negeri ini, dapat dikatakan Universitas Terbuka mempunyai peranan yang penting dalam membangun negeri. Selain itu, dengan sistem pembelajaran jarak jauhnya Universitas Terbuka mempunyai peranan yang penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Melalui sistem pembelajaran jarak jauhnya Universitas Terbuka menjadikan Pendidikan Tinggi mudah diakses oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun.

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari Universitas Terbuka dalam  rangka memperingati HUT Universitas Terbuka ke-32. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.”

Referensi Penulisan

Senin, 08 Februari 2016

“Tahura, Awal Mula aku Bermalam di Hutan”


Aku adalah seorang mahasiswa Biologi,  di FMIPA Universitas Lambung Mangkurat yang sedang menempuh semester 2. Aku tinggal di Banjarbaru yang jauh dari kampung halamanku di Kab.Hulu Sungai Tengah.  Salah satu kegiatan yang sangat kusukai adalah kegiatan dialam  luar. Kesukaan tersebut bermula ketika aku pergi ke Kotabaru menuju rumah sepupuku, pada saat itu aku masih duduk di bangku SD. Sepanjang perjalanan aku melihat kawasan pegunungan dan menyeberangi Laut. Sejak saat itu aku mulai menyukai keindahan lingkungan yang membuat aku terpesona, kagum, &   membuatku ingin menjelajahinya.
Menanam Pohon di TAHURA
Menanam Pohon di Tahura Sultan Adam
Setelah lama aku menanti akhirnya pada bulan April Kemarin (pada tanggal 11-13) aku berkesempatan merasakan  sejuknya udara pegunungan meratus. Tepatnya aku pergi ke taman Hutan Raya Sultan Adam Mandiangin di Kab.Banjar. Tujuanku kesana adalah mengikuti kegiatan pengkaderan mahasiswa Baru Program Studi Biologi. Pengkaderan tersebut dinamakan Makrab (malam Keakraban) dan dilaksanakan oleh HIMABIO “Apiade”. Tujuan  dari kegiatan tersebut untuk mempersiapakn pengurus HIMABIO “Apidae” untuk masa mendatang. Banyak kegiatan yang kami lakukan selama di Tahura Mandiangin. Salah satu kegiatan yang paling kusukai adalah Penanaman  pohon. Kegiatan penanaman pohon tersebut dilakukan karena sebagian kawasan pegunungan meratus mengalami kegundulan.
Selain menanam pohon, kami juga menjaga kawasan Tahura Mandiangin dengan tidak menggunakan sabun mandi. sebagai gantinya kami hanya diperbolehkan membawa sabun bayi. Dihari terakhir kami melakukan operasi semut  memunguti sampah-sampah di sekitar tempat kami berkemah.
Bermalam di Tahura Sultan Adam Mandiangin merupakan kegiatan pertamakalinya bagiku. dan menjadi awal mulanya aku ketagihan terhadap kegiatan dialam bebas. Kegiatanku di Tahura tersebut membuat aku menyukai kegiatan travelling, terutama yang berbau alam. Dan saat ini aku mempunyai impian mengelilingi indonesia. Banyak hal yang sangat ingin kulakukan, salah satunya menyelami jernihnya lautan di Raja Ampat. Dan masih banyak lagi, termasuk berenang bersama ubur-ubur di Danau Kakaban.
Hal terakhir yang ingin kusampaikan pada teman-teman semuanya adalah selalu jaga lingkungan. Termasuk saat kita berwisata sekalipun. Salam LESTARI....!!!

Foto Bersama Mahasiswa Biologi FMIPA Unlam Angkatan 2013 di Tahura Mandiangin
Foto Bersama Mahasiswa Biologi FMIPA Unlam Angkatan 2013 di Tahura Mandiangin

Sabtu, 06 Juni 2015

Danau Biru, Cempaka atau bekas Galian

Danau yang satu ini juga meruupakan salah satu \destinasi yang menarik minat gue, awalnya kesana cuman diajakin dan ngikut aja. Waktu sampai ternyata bukannya danau yang gimana... eh ternyata danau Bekas galian Tambang. Tapi menariknya, itu karena airnya berwarna hijau agak kebiruan. Mungkin dikarenakan oleh struktur komunitas algae yang mendiami danau tersebut.

Tapi disini gue enjoy aja dan sempat foto-foto sebentar juga,,,







Bukit Batas Kecamatan Aranio

Tempat yang satu ini juga lagi booming-boomingnya, banyak anak muda yang pergi kesana pada saat akhir pekan. Soalnya tempat ini lagi seru-serunya. Temapat wisata yang satu ini sangat menarik untuk dikunjungi.

Kalau mau pergi kesana loe harus pergi dulu ke Kecamatan Aranio Kab. Banjar. Tepatnya kawasan Waduk Riam Kanan. Sampai dio Aranio kita harus menyebrangi Waduk Riam kanan menuju Ke Pulau Pinus 2. Kapal disana bisanya disewa. Untuk satu kapal itu muatnya sekitar 15 orang dengan total biaya sebesar 400 ribu udah termasuk Antar Jemput. Sampai di Pulau Pinus 2 kita harus mendaki lagi kurang lebih selama dua jam. Lumayan lama dan jauh terus juga  curam banget. Jadi kala kesini nggak asik kalau nggak keringetan. Sampai diatas kita akan melihat pemandangan yang seru. Pemandangan seperti pulau- pulau kecil diwaduk riam kanan. Ini yang menariknya di bukit Batas. Sampai-sampai disebut Raja Ampatnya Kalimantan.

Sampai diatas, bakalan sia-sia banget kalau kita nggak nginap dan bikin tenda. Capek2 mendaki dua jam itu rugi kalau nggak liat sunset. Iyalah, ternyata bukit batas merupakan salah satu tempat melihat sunset yang bagus. Pagi itu sangat dingin dan agak mendung. Pada saat melihat sunset, gue sempat agak khawatir kalau-kalau nggak bisa ngeliat. Soalnya udara disana sempat berkabut. Tapi untungnya kabut disana cepat hilang....




Setelah itu kami turun ke Pulau Pinus, dan sempat-santai-santai disana. Sambil nungguin Kapal yang menjemput kami datang...



Bukit Rimpi Pelaihari

Bukit Rimpi, tempat wisata yang satu ini lagi booming-boiomingnya di kalangan anak muda Kalimantan Selatan. Itu terjadi gara-gara banyak yang datang ke bukit ini kemudian majang fotonya di Medsos. Kemudian banyak yang berdatangan ke tempat ini. Yang juga menariknya bukit ini dikenal juga sebagai Bukit Teletubies, dikarenakan bentuknya yang berundak-undak dan hanya ditumbuhi ilalang katya di film Teletubies. 


Kebetulan gue udah pernah kesana tepatnya pada saat liburan semester lalu, yaitu pada saat minggu tenang semester 3 tahun 2015 kira-kira awal tahun. Gua kesana diajakin sama temen-temen kuliah yang kebetulan lagi pengen liburan, ya udah ikutan aja dahhhh....

Waktu pergi kesana, cuaca benar-benar nggak mendukung dehh, ujan gerimis. Itui terjadi mulai kami berangkat dan cuacanya udah agak mendung. Sampainya disana langsung naik ke bukitnya langsung ujan. Untung aja nggak lebat sampai bikin basah kuyup. 


Sampai disana yang bikin gue heran.....
Ternyata sebenarnya bukit Rimpi itu tempat menggembalakan sapi. Malah disana banyak kotoran sapi yang berserbaran. Koq bisa jadi tempat wisata...?
Nah untuk yang ini kurang tau,,,


Waktu gue dan temen2 kesana itu kebetulan kondisinya pada saat musin hujan jadi wajar aja agak becek2 gitu. Sampai-sampai ada celotehan kaya gini “Bukit Licak Rimpi”... Licak itu bahasa banjarnya becek.


Gue dan temen-temen disana nggak terlalu lam, tapi lumayanlah. Kira-kira beberapa jam dan sempat foto-foto, ini nih foto-fotonya.












Kamis, 07 Mei 2015

Tanah Serpentin

Tanah  serpentin mudah diketahui karena berwarna hijau-coklat dengan bebatuan mengkilap berwarna hitam legam dan putih pecah atau tersebar. Tanah serpentin memiliki kandungan logam berat yang tinggi seperti Cr (Kromium), Co (Kobalt), dan Ni (Nikel). Kandungan Ca (Kalsium) pada tanah ini biasanya rendah, sebaliknya kandungan Mg (Magnesium) tinggi. Nitrogen juga jarang tersedia di tanah serpentin sehingga menjadi faktor pembatas pertumbuhan tumbuhan. Secara umum, tanah serpentin bersifat miskin hara dan air. Tanah serpentin umumnya hanya mengandung sedikit agregat di permukaan tanahnya. Kandungan logam berat yang tinggi pada tanah ini dapat menghambat pertumbuhan tumbuhan, bahkan di beberapa tempat kadarnya mencapai ambang beracun bagi tumbuhan (Sudarmono, 2007). Kondisi tersebut membuat tumbuhan yang tumbuh di tanah serpentin melakukan simbiosis dengan cendawan ektomikoriza.  



Selasa, 04 November 2014

Urbanisasi dan Inovasi

Urbanisasi merupakan suatu bentuk perpindahan penduduk (salah satu imigrasi) dari desa menuju ke kota. Sehingga akhirnya menimbulkan kepadatan penduduk yang kemudian menghasilkan dampak negatif. Dampak negatif yang ditimbulkan dari adanya urbanisasi antara lain adalah kemiskinan dan kesehatan. Jika kita melihat ke kota besar seperti Jakarta, maka yang akan kita akan berpikir bahwa Urbanisasi sendiri juga akan menimbulkan dampak negatif dibidang budaya. Sebagai contoh, Budaya membuang sampah kesungai di Jakarta muncul karena padatnya kota Jakarta dan sulitnya menyadiakan tempat pembuangan Akhir dengan alasan terlalu dekat dengan pemukiman. Dan masih banyak lagi masalah lainnya yang ditimbulkan dari Urbanisasi dan Kepadatan Penduduk. Jika kita berbicara tentang dampak negatif dari urbanisasi maka tidak akan ada habisnya.
Urbanisasi tentu akan menimbulkan banyak dampak negatif, untuk mengatasi masalah-masalah yang ditimbulkannya maka diperlukan suatu inovasi. Sehingga dapat dikatakan Urbanisasi dapat mendorong terjadinya inovasi. Inovasi sendiri muncul karena suatu masalah yang terjadi, sebagai contoh suatu obat akan muncul setelah munculnya penyakit (obat mengikuti penyakit). Namun dapat pula muncul karena suatu masalah belum terjadi tetapi telah diperkirakan akan terjadi, contohnya Inovasi bendungan ditengah laut dibuat dikarenakan kota Jakarta diprediksi akan tenggelam. Urbanisasi tentu juga akan menimbulkan munculnya inovasi-inovasi baru, hal tersebut bertujuan untuk mengatasi masalah yang terjadi di kota yang padat. Contoh Inovasi yang terjadi karena adanya Urbanisasi adalah munculnya konstruksi bangunan bertingkat untuk mengatasi kepadatan penduduk.
Pada akhirnya kita akan berpendapat bahwa Urbanisasi tidak hanya menyebabkan dampak negatif tetapi juga menyebabkan dampak yang baik (positif). Kalimat tersebut dapat memunculkan pendapat baru yang lebih ekstrim, bahwa urbanisasi menyebabkan munculnya Inovasi baru. Namun yang menjadi permasalahan adalah; Apakah kita mempunyai SDM (terutama generasi muda) yang kreatif, pandai, dan berkualitas untuk berinovasi memecahkan masalah yang ditimbulkan dari adanya Urbanisasi?. Saya tidak berpikir apakah anda akan berpendapat bahwa Urbanisasi akan menyebabkan dampak buruk ataupun dampak negatif. Tetapi sudahkah anda menyiapkan diri,  untuk memecahkan masalah-masalah yang ditimbulkan oleh Urbanisasi.

Mari Belajar, Siapkan Diri, Untuk Berinovasi
Jangan berpikir untuk negara, tetapi pikirkan diri kita dulu.
Masyarakat Ekonomi Asean mengahadang didepan
Ketangguhan diri  Kita adalah ketangguhan Negara.
Jika kita tangguh, Negara juga akan tangguh


Interaksi Antar Makhluk Hidup

Amensalisme
  • Manusia: Orang yang nyanyi-nyanyi tidak jelas didekat orang yang sedang belajar
  • Hewan: Protozoa yang hidup dipantai Jamaika
  • Tumbuhan: Tanaman Akasia dibawah pohon Pinus besar yang rimbun
  • Mikroba: Mikroba penghasil antibiotik (Pennicillum sp) yang menghasilan Penicilin yang menghambat mikroba lain
Neutralisme
  • Manusia: Dua orang yang duduk bersebelahan dalam kereta
  • Hewan: Kucing dan semut dalam sebuah ruangan yang sama
  • Tumbuhan: Dua tanaman dalam pot berbeda yang diletakkan berdampingan
  • Mikroba:  Populasi Algae Spirulina sp dan Penium sp pada danau yang sama
Kompetesi

  • Manusia: Lomba lari cepat 1000 meter
  • Hewan: Kuda Nil dan Buaya yang memperebutkan sungai yang tinggal sedikit pada musim Kemarau
  • Tumbuhan: Tanaman pertanian dan gulma
  • Mikroba: Bakteri baik dan jahat dalam usus manusia
Parasitisme
  • Manusia: Seseorang orang yang selalu ngutang dengan temannya.
  • Hewan: Kutu pada Kucing.
  • Tumbuhan: Benalu pada pohon ketapang.
  • Mikroba: Trypnosoma pada darah manusia.
Predasi
  • Manusia: Kanibalisme; Sumanto
  • Hewan: Kucing dan Tikus
  • Tumbuhan: Tumbuhan Karnivora; Kantong Semar
  • Mikroba: protozoa Didinium dapat menelan dan mengkonsumsi protozoa Paramaecium yang lebih besar
Komensalisme
  • Manusia: Seseorang yang belum paham meminta ajari kepada temannya yang sudah paham.
  • Hewan: Ikan Badut Dengan Anemon
  • Tumbuhan: Anggrek dengan pohon Pinus
  • Mikroba: Algae yang menempel pada cangkang molusca sungai atau danau
Protokoperasi
  • Manusia: Calo dan Sopir
  • Hewan: Kerbau Rawa dan Burung Jalak
  • Tumbuhan:  Bunga dan Kupu-kupu (sama-sama menguntungkan tapi tidak saling bergantung
  • Mikroba: Lichenes (Lumut dan Algae)

Mutualisme

  • Manusia: Penjual dan Pembeli
  • Hewan: Sapi dengan Bakteri Selulolitik dalam ususnya
  • Tumbuhan: Fungi Mikoriza dengan tanaman Pinus yang tumbuh di Tanah Kritis
  • Mikroba: Rayap dengan Protozoa 

Sabtu, 06 September 2014

Hymne, Mars Unlam & Mars MIPA ; Selangkah Lebih Maju

HYMNE UNLAM
Semboyan menyala dalam dada mahasiswa
Berlomba capai cita-cita
Jadi Insan Pancasila
Lambung Mangkurat
Universitas kami
Tempat Kami berbakti
Waja sampai kaputing
Waja Sampai Kaputing
Pantang melangkah mudur
Usaha Sampai Akhir
MARS UNLAM
Universitas Lambung Mangkurat
Mendidik putra putri bangsa
Pancasila dan Undang-undang Dasar  45
Sebagai Dasar Perjuangan
Unlam Selalu siap sedia
Memberi ilmu pengetahuan
Demi Indonesia Raya
Membangkitkan jiwa kebangsaan
Wahai putra bangsa, engkaulah harapan bangsa
Wahai mahasiswa siapkanlah dirimu
Engkaulah pemimpin masadepan
Sematngat waja sampai kaputing
Majulah terus pantang mundur
Jadilah Kesatria bangsa,
Berbaktilah pada Negara
Indonesiiaaa
MARS MIPA
Muda-mudi mahasiswa MIPA
Kami siap, maju bersama
Demi kejayaan negara
Demi kebanggaan bangsa
Menjunjung tinggi pancasila, Undang-undang dasar 45
Dimanapun kami berada, kami kan selalu berjaya
Membawa satu nama MIPA
Lelahpun takkan terasa
Dengan membusungkan dada
Jangan tundukkan kepala
Muda-mudi mahasiswa MIPA
Selalu siap untuk berkarya
Pastikan tuk slalu berjaya
Kami kan Slalu berjaya
Kami kan Slalu berjaya

Kalau lagu yang terakhir ini merupakan lagu yang dibawakan Padus HIMABIO "APIDAE" waktu Dekan Cup 2013.
SELANGKAH LEBIH MAJU
Slalu kucinta dan aku banggakan
Didalam hatiku selamanyaaa
Mari bersama kita gapai cita
Semoga kita semua selangkah lebih Majuuu
Du,,,dudu,,,dududu,,,duduaaa 2X
Hai sobat taukah kalian
Sungguh hatiku rasa bahagia
Kutemukan indahnya dunia
Saat berkumpul dengan kaliaaan
Du,,,dudu,,,dududu,,,duduaaa 2X
Hai kawan marilah bersama
Kita rayakan hari bahagia
Hari baru penuh sukacita
Tambah usia fakultas kita
Susah senang jalani bersama
Tanpa ada rasa keraguan
Mari kita bangun masadepan
Bersama... Mulai dari saat ini
Akan slalu kucinta dan aku banggakan
Didalam hatiku selamanya
Mari bersama kita gapai cita
Semoga kita semua Selangkah Lebih Majuuu
.........................
Susah senang jalani bersama
Tanpa ada rasa keraguan
Mari kita bangun masadepan
Bersama... Mulai dari saat ini
Akan slalu kucinta dan aku banggakan
Didalam hatiku selamanya
Mari bersama kita gapai citaa
Semoga kita semua Selangkah Lebih Majuuu
............................
Akan slalu kucinta dan aku banggakan
Didalam hatiku selamanya
Mari bersama kita gapai cita

Semoga kita semua Selangkah Lebih Majuuu

Untuk versi PDF bisa di download di sini

Kamis, 28 Agustus 2014

Jelutung (Dyera pollyphylla)

PENDAHULUAN
Provinsi Kalimantan Selatan mempunyai lahan rawa seluas 191.022 ha yang terdapat di Kabupaten Barito Kuala, Banjar dan tiga Kabupaten lainnya dengan luas masing-masing 93.365 ha, 49.267 ha dan 48.390 ha. Dari luas tersebut yang sudah dimanfaatkan baru mencapai 155.860 ha (81,59%) dari total luas potensi lahan rawa di Provinsi Kalimantan Selatan (Bakhri, 1993).
Besarnya luasan lahan rawa yang terlantar seperti tersebut di atas disebabkan oleh adanya hambatan internal lahan rawa berupa sifat fisika, kimia, biologi, tata air dan sosial ekonomi yang menghambat kegiatan budidaya tanaman. Sifat kimia lahan yang menghambat antara lain: kemasaman dan kesuburan tanah yang rendah (miskin hara). Sifat fisika yang menghambat adalah adanya penyusutan ketebalan (subsidence) dan kondisi fisik lahan. Faktor tata air yang menghambat adalah adanya variasi genangan. Kendala biologis berupa tingginya serangan hama dan penyakit serta infeksi gulma. Kendala sosial ekonomi di daerah rawa meliputi: (a) rendahnya tingkat pendidikan dan ketrampilan petani, (b) terbatasnya tenaga dan modal petani yang menyebabkan timbulnya kesulitan dan lambannya adopsi teknologi baru. Kelembagaan agribisnis seperti penyediaan sarana produksi, pengolahan pasca panen, pemasaran hasil, sistem informasi dan penyuluhan serta aksesibilitas lokasi masih terbatas dan belum berkembang serta berfungsi secara baik.
Upaya memproduktifkan kembali lahan rawa terlantar dapat dilakukan melalui pembangunan hutan rakyat dengan teknik agroforestry berbasis jenis lokal (indigenous species) yang dilakukan secara partisipatif. Pembangunan hutan rakyat tersebut diharapkan dapat memulihkan dan meningkatkan fungsi ekologi serta ekonomi lahan rawa di Provinsi
Kalimantan Selatan.

Jelutung rawa (Dyera pollyphylla Miq. Steenis atau sinonim dengan D. lowii Hook F) merupakan jenis pohon lokal (indigenous tree species) hutan rawa yang prospektif untuk dikembangkan pada hutan rakyat di lahan rawa karena keunggulan ekologi dan ekonomi yang dimilikinya. Jelutung rawa mempunyai daya adaptasi yang baik dan teruji pada lahan rawa, pertumbuhannya relatif cepat dan dapat dibudidayakan dengan manipulasi lahan yang minimal, mempunyai daya adaptasi yang baik dan telah teruji pada lahan rawa mempunyai pertumbuhan yang cepat (riap diameter 2,0 – 2,5 cm/tahun, riap tinggi 1,6 – 1,8 m/tahun) dapat dibudidayakan dengan manipulasi lahan minimal mempunyai hasil ganda, getah (untuk permen karet, kosmetik, isolator) dan kayu (untuk pencil slate, vinir, moulding) sudah dikenal dan dimanfaatkan lama oleh masyarakat dapat dibudidayakan seperti tanaman karet, pada masa produktif disadap getahnya, pada akhir daur dimanfaatkan kayunya.
BUDIDAYA POHON JELUTUNG (Dyera spp.)
Pohon jelutung berbentuk silindris, tingginya bias mencapai 25-45 m, dan diameternya bisa mencapai 100 cm. Kulitnya rata, berwarna abu-abu kehitam-hitaman, dan bertekstur kasar. Cabangnya tumbuh pada batang pohon setiap 3-15 m. Bentuk daunnya memanjang, pada bagian ujungnya melebar dan membentuk rokset. Sebanyak 4-8 helai daun tunggal itu duduk melingkar pada ranting. Jelutung berbunga dua kali setahun. Bunga malainya berwarna putih, dan buahnya berbentuk polong. Apabila sudah matang, buahnya pecah untuk menyebarkan biji-bijinya yang berukuran kecil dan bersayap ke tempat di sekitarnya.
1.      Kesesuaian Lahan
Jelutung tumbuh baik di daerah hutan hujan tropis yang beriklim tipe A dan tipe B menurut Schmidt & Ferguson; tanah berpasir, tanah liat, dan tanah rawa; dengan ketinggian tempat tumbuhnya 20-80 m dari permukaan laut.
Adapun proses budidaya jelutung rawa :
2.      Pembibitan
            Jelutung rawa berbuah setiap tahun, mulai berbunga pada bulan November-Desember dan buah telah matang (dapat dipanen) bulan Mei-Juni (tergantung musim). Masa simpan benih pendek yakni 1 - 2 bulan maka sebaiknya setelah dipanen benih langsung dikecambahkan. Benih yang baik akan mul;ai berkecambah setelah 1 minggu penyemaian  kemudian akan tumbuh sepasang kotiledon, pada saat ini kecambah sudah bisa dipindahkan ke polybag. Pada fase ini perlu kehati-hatian dan harus orang yang berpengalaman karena batang kecambah lunak dan mudah patah. Setelah bibit berumur 8 - 10 bulan maka bibit sudah siap dipindahkan ke lapangan. Kriteria bibit sudah siap tanam : Tinggi antara 35 - 50 cm, diameter batang 0,5 - 0,7 cm, jumklah daun 8 - 12 helai, bentuk batang lurus, bentuk batang lurus dan terbebas dari serangan hama dan penyakit.
3.      Penyiapan Lahan
Penyipan lahan cukup dilakukan dengan membuat jalur tanaman selebar 1 - 1,5 m karena tanaman jelutung muda masih butuh naungan, pembersihan lahan dapat dilakukan secara manual maupun dengan menggunakan herbisida. Dalam penyiapan lahan sebaiknya didesai dengan emmbuat sekat bakar yang berfungsi sebagai pelindung tanaman dari bahaya kebakaran lahan.
4.      Penanaman
-          Untuk penanaman murni maupun rehabilitasi kawasan hutan jarak tanam yang dianjurkan adalah 4 x 5 m atau 5 x 5 m. Pada umur 5 tahun dapat dilakukan penjarangan sehingga jarak tanamnya menjadi 8 x 8 atau 8 x 10 m. Tapi alangkah baiknya tidak dilakukan penjarangan karena sayang kalau ditebang...
-          Bagi yang memiliki lahan terbatas dan sudah terlanjur ditanami tanaman kopi, kelapa sawit dan atau kelapa dalam jangan khawatir masih bisa ditanami jelutung dengan sistem tumpang sari. Jarak tanam disesuaikan dengan jarak tanam tanaman pokok, pola tanamnya diagonal (mata lima) seperti mata dadu lima, kayu jelutungnya ditanam ditengah-tengah tanaman pokok. Untuk penanam di sela-sela tanaman sawit dianjurkan umur kelapa sawit di atas 5 tahun, dengan asumsi bahwa masa produkstif kelapa sawit di lahan gambut 5 - 15 tahun, jadi pada saat kelapa sawit berumur 15 tahun tanaman jelutung sudah berumur 10 tahun, sehingga produksi kelapa sawit mulai berkurang pohon jelutung sudah bisa di sadap.
5.       Pemeliharaan
-      Untuk penanaman murni pemeliharaan yang paling penting adalah pada tahun ke-1 setelah tanam, berupa penyiangan, pendangiran, penyulaman, pemupukan (jika ada modal) dan pemberantasan hama dan penyakit (jika diperlukan).
-      Sedangkan pemeliharaan tanaman jelutung yang ditanam disela-sela tanaman perkebunan (tumpang sari) pemeliharaan relativ lebih mudah, karena komponen pemeliharaan sudah menjadi satu dengan pemeliharaan tanaman pokok.

                 MANFAAT EKONOMIS JELUTUNG
Jelutung sebagai komoditi pohon di lahan rawa tentu memiliki beberapa keunggulan ekonomis yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat lokal untuk pengembangan ekonomi mereka, hal tersebut antara lain adalah:
A.    Getah
Pohon jelutung menghasilkan getah berwarna putih. Penyadapan getah jelutung dilakukan padas pohon jelutung yang berdiameter lebih-kurang 20 cm. Sekali penyadapan menghasilkan getah jelutung 0,1-0,6 kg/pohon. Setahun penyadapan getah jelutung bisa dilakukan 40 kali. Sebagai gambaran, dengan asumsi harga getah jelutung dipasaran sebesar Rp 3.000,-/kg, dengan jumlah pohon 200 pohon/ha, maka nilai ekonomis getah jelutung per hektar Rp 2.400.000,- – Rp 13.440.000,-.
B.     Kayu
Setelah pohon jelutung tidak lagi menghasilkan getahnya, pohonnya bisa ditebang untuk dimanfaatkan kayunya. Kayu jelutung dapat digunakan untuk bahan: cetakan bangunan, meja gambar, kelom, ukiran, sepasiter baterai, kayu lapis dan pensil.
Menurut perencanaan pembangunan hutan rakyat, pertumbuhan diameter pohon jelutung rata-rata 1,58 cm/tahun, dan dengan umur masak tebangnya 35 tahun, maka rata-rata diameter pohonnya lebih besar 50 cm. Dengan asumsi rata-rata tinggi pohon bebas cabang 15 m, volume rata-rata 2,94 m3, jumlah pohon 200/ha, dan harga kayu di pasaran Rp. 200.000,-/m3, maka nilai kayu jelutung per ha Rp. 117.600.000,-
JELUTUNG UNTUK HUTAN RAKYAT DI LAHAN RAWA
Keberhasilan pembangunan hutan rakyat di lahan rawa salah satunya ditentukan oleh faktor pemilihan jenis yang tepat dari aspek ekonomi, sosial budaya dan ekologis. Pemilihan jelutung untuk hutan rakyat di lahan rawa didasari oleh alasan sebagai berikut.
1.      Kemampuan beradaptasi pada lahan rawa telah teruji. Daya adaptasi yang baik pada lahan rawa merupakan syarat mutlak bagi suatu jenis pohon yang akan digunakan untuk merehabilitasi lahan rawa terdegradasi. Jelutung mempunyai daya adaptasi yang baik pada lahan rawa yang selalu tergenang atau tergenang berkala.
2.      Pertumbuhan yang relatif cepat. Jelutung mempunyai pertumbuhan yang relatif cepat, pada kondisi alami riap diameter pohon berkisar antara 1,5 – 2,0 cm per tahun (Bastoni dan Riyanto, 1999). Pohon jelutung yang dibudidayakan dengan pemeliharaan semi insentif riap diameternya dapat mencapai 2,0 – 2,5 cm per tahun (Bastoni, 2001).
3.      Dapat dibudidayakan dengan manipulasi lahan yang minimal. Jelutung dapat dikembangkan untuk hutan rakyat di lahan rawa dengan gangguan terhadap lahan yang sangat minimal. Hal ini dimungkinkan sebab penanaman jelutung di lahan rawa dapat dilakukan tanpa pembuatan kanal untuk sistem drainase. Pembuatan kanal merupakan bentuk gangguan berat pada lahan yang berdampak negatif, seperti: terjadinya perubahan status hidrologi dari kondisi tergenang menjadi tidak tergenang, terjadinya penurunan tebal lapisan (subsidence) dan menyebabkan sifat kering tak balik. Kondisi tersebut menyebabkan lahan rawa menjadi sangat rawan kebakaran pada musim kemarau.
4.      Hasil ganda (getah dan kayu). Pengembangan jelutung mempunyai prospek yang baik karena kedua jenis produk pohon jelutung (getah dan kayu) memiliki banyak manfaat. Kayu jelutung berwarna putih kekuningan, bertekstur halus, arah serat lurus dengan permukaan kayu yang lici mengkilap. Sifat kayu jelutung tersebut sangat baik digunakan sebagai bahan baku industri mebel, plywood, moulding, pulp, patung dan pencil slate. Getah jelutung dapat digunakan sebagai bahan baku permen karet, isolator dan soft compound ban. Pasar kayu jelutung di dalam negeri relatif baik, hal ini disebabkan oleh kebutuhan bahan baku industri pencil slate yang mencapai 180.670 m3 per tahun (Bastoni dan Lukman, 2004).
5.      Masukan (input) biaya budidaya relatif rendah. Bastoni dan Karyaatmadja (2003) menyatakan bahwa dalam jangka waktu tiga tahun biaya yang dikeluarkan pada pembangunan hutan tanaman jenis jelutung untuk bibit, penyiapan lahan, penanaman dan pemeliharaan sekitar Rp2,88 juta per ha lahan.
6.      masyarakat telah mengenal jelutung. Jelutung dapat dibudidayakan seperti tanaman karet, yaitu pada masa produktif disadap getahnya dan pada saat produktivitas getahnya menurun dapat dimanfaatkan kayunya. Pola budidaya jelutung mirip dengan karet, yaitu hasil getah mulai umur 8-10 tahun sampai sepanjang daur dan hasil kayu pada akhir daur. Kemiripan budidaya jelutung dengan karet menjadikan masyarakat tidak
mengalami kesulitan untuk membudidayakannya.

PENUTUP
Pengembangan hutan rakyat jenis jelutung untuk memproduktifkan lahan rawa terlantar dapat dilakukan dengan mengembangkan pola kemitraan. Pembangunan hutan rakyat jenis jelutung dengan pola kemitraan dapat diinisiasi dan dikembangkan oleh suatu badan usaha kehutanan. Masyarakat pemilik lahan hanya menyediakan areal untuk pembangunan hutan rakyat jenis jelutung. Para pengusaha menyiapkan pendanaan, teknologi budidaya dan infrastruktur pemasaran hasilnya. Skema umum dari bentuk kemitraan pembangunan hutan rakyat jenis jelutung pada areal milik ini adalah sebuah benefit-cost sharing antara pemilik lahan dengan perusahaan yang disepakati bersama dalam suatu dokumen perjanjian.

DAFTAR PUSTAKA
Harun, Marinus Kristiadi. 2006. Jelutung Rawa; Primadona Baru Penghasil Getah.http://www.radarbanjarmasin.com,
diakses pada 24 November 2013
Rotinsilu, M Johanna.dkk. Teknik Budidaya Jelutung, Galam, dan Ramin. Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya, Palangkaraya.

Bahtimi, Y. 2009. Jelutung (Dyera,Spp) Dan Strategi Pengembangannya Di Lahan 

            Rawa Kalimantan Selatan Sebagai Penunjang Peningkatan Ekonomi

Masyarakat Lokal. Fakultas Kahutanan Universitas Labung Mangkurat,

Banjarbaru Kalimantan Selatan

http://hijaualami.wordpress.com (diakses pada tanggal 25 November 2013)